Pangkalpinang-Dinas Sosial dan PMD melalui Tim Patwal melakukan pendataan dan pembinaan Tuna Susila (TS) di kawasan Teluk Bayur Kota Pangkalpinang, Selasa (25/02/2025). Kegiatan kali ini menggandeng Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Direktorat Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polda Kepulauan Bangka Belitung. 

Memasuki kawasan Teluk Bayur, tampak beberapa bangunan hampir roboh dan tak berpenghuni. Masih dalam satu kawasan nampak cafe-cafe tempat bermukim Tuna Susila yang aktivitasnya tetap berjalan meski tinggal menghitung hari memasuki Bulan Suci Ramadhan. 

Tim DinsosPMD berhasil mendata sebanyak 22 orang Tuna Susila yang hampir sebagian besar berasal dari luar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berdasarkan kartu identitas yang mereka miliki. Beberapa Tuna Susila baru beberapa bulan menginjakkan kaki di kawasan tersebut, dan sebagian besar merupakan penghuni lama kawasan Teluk Bayur. 

Fakta mengejutkan ditemukan Tim DinsosPMD dalam kegiatan kali ini. Keterlibatan pelajar dalam dunia prostitusi bukan isapan jempol belaka. Bahkan, seringkali yang menjadi pelanggan di Kawasan Teluk Bayur merupakan pelajar yang notabene berusia remaja yang seharusnya fokus terhadap pengembangan diri mereka. 

Kondisi ini mengkhawatirkan dan mempengaruhi perkembangan remaja dan membawa dampak negatif baik dari aspek fisik, psikis dan sosial. Usia perkembangan remaja merupakan usia dimana individu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Jika tidak diarahkan dengan baik, maka akan menimbulkan dampak negatif bahkan merosotnya moralitas anak. 

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dyah Yuni Utari menyayangkan fakta yang ditemukan di lapangan tersebut. Usia dimana seorang anak yang merupakan pelajar harusnya mendapatkan bimbingan dari orang tua serta  pengawasan dari pihak sekolah. justru terjerumus dalam lembah hitam prostitusi. 

Hal ini seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemangku kebijakan. Peran berbagai pihak juga diperlukan untuk mengawasi dan mengontrol perilaku pelajar. 

"Peran berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjaga dan mengawasi anak-anak kita. Sangat miris kondisi yang kita temui dilapangan. Peran orang tua, peran guru disekolah, dan pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar agar mereka terlindungi dari hal-hal seperti ini," ungkap Dyah. 

Seks bebas sendiri menimbulkan dampak negatif mulai dari kesehatan fisik seperti penularan penyakit menular seksual hingga gangguan sistem reproduksi. Dampak kesehatan mental seperti munculnya rasa bersalah, kecemasan dan kecanduan seksual. Terakhir, dampak sosial yang terjadi karena seks bebas  mulai dari terputusnya pendidikan hingga hilangnya kesempatan untuk mengembangkan diri. 

Pengawasan terhadap anak, baik dilingkungan sekolah terutama pengawasan dari orang tua perlu ditingkatkan. Membuka cara pandang anak melalui sex education baik perantara keluarga ataupun sekolah, perlu dan tetap harus dilakukan sebagai pengingat agar anak tak terjerumus dan merasakan dampak yang serius akibat seks bebas.